
Lamongan-Telah sampailah episode terakhir bulanan LPPM Research Day pada tahun 2025 ini (25/11/2025). Pada kesempatan yang berbeda dengan agenda sebelumnya, telah dihadirkan dua pemateri dari dosen STIQSI yang menyajikan penelitian menarik berbasis kualitatif juga kuantitatif. Dua penelitian tersebut berjudul Kritik Materialisme dalam Ilmu Kalam Jadid, yang menggunakan Analisis atas Pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Relevansi Kurikulum Ilmu Al-Qur’an dan Sains dengan Dunia Kerja.
Melihat dari dua penelitian yang disampaikan, Tim LPPM selaku penanggungjawab kegiatan turut mengapresiasi kepada dua pemateri tersebut, al-Ustadz M. Arwani Rofi’i, Lc., M.Ag dan al-Ustadzah dr. Rosyidina Robi’aqolbi, M.Kes dapat menghadirkan penelitian yang mendalam walaupun di tengah padatnya kesibukan aktivitas mereka. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu pemateri bahwa amanah untuk menjadi pemateri pada agenda Research Day sempat merasa keberatan ditengah padatnya job yang harus dijalankan.
Namun, disisi lain beliau mengungkapkan rasa syukur karena dengan agenda Research Day ini mengingatkan kembali akan tanggugjawab seorang dosen dalam melaksanakan penelitian sebagai bagian dari Tridharma perguruan tinggi. Hal ini menunjukan bukti komitmen dosen STIQSI dalam pengembangan tradisi penelitian.

Kritik Materialisme dalam Ilmu Kalam Jadid
Sebagai inti kegiatan, al-Ustadz M. Arwani Rofi’i, Lc., M.Ag selaku pemateri pertama menyampaikan bahwa penelitian ini berlatarbelakang adanya tantangan modern yang berupa materialism dan sekularisme, dimana era modern ini sangat membutuhkan ilmu kalam yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi membutuhkan ilmu yang sesuai untuk menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, peneliti mengkaji bagaimana pemikiran Jamaluddin Al-Afghani yang menkritik materialism sebagaimana tercantum dalam kitabnya “al-Radd ‘ala al-Dahriyyin”.
Dalam pandangan al-Afghani, materialiasme dipandang sebagai ancaman moral dan spiritual manusia yang mampu merusak manusia dan masyarakat. Aliran ini dianggap berbahaya karena menolak seluruh aspek metafisik, termasuk keberadaan tuhan, jiwa dan kehidupan akhirat. Dengan kondisi tersebut, kritik tajam al-Afghani terhadap materialism menjadi bagian penting dalam pembaruan ilmu kalam jadid yang berupaya mengintegrasikan teologi tradisional dan rasionalitas modern. Hal ini disimpulkan bahwa pemikiran al-Afghani bersifat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Relevansi Kurikulum Ilmu al-Qur’an dan Sains dengan Dunia Kerja
Dilanjut pada pemateri kedua, al-Ustadzah dr. Rosyidina Robi’aqolbi, M.Kes menghadirkan terobosan baru dengan penelitian kuantitatifnya terhadap para alumni STIQSI untuk meninjau seberapa jauh relevansi kurikulum Ilmu al-Qur’an dan Sains dengan dunia kerja. Hal ini bermula dari tantangan dunia kerja yang tidak hanya membutuhkan berfikir kritis saja melainkan inovasi serta kemampuan dalam beradaptasi secara digital.
Lain itu, sejauh ini banyak dari kalangan masyarakat yang mempertanyakan bahwa lulusan perguruan tinggi dengan jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir mendapatkan bidang pekerjaan seperti apa yang dapat digeluti. Keraguan ini sering muncul karena adanya anggapan bahwa ilmu keislaman hanya berorientasi pada profesi terbatas, seperti guru agama atau pengajar di Lembaga keislamaan. Melalui penelitian ini, ketua LPM STIQSI, al-Ustadzah Dina berupaya menghadirkan data empiris dari para alumni STIQSI untuk menjawab keresahan tersebut sekaligus meninjau kurikulum pembelajaran yang ada di STIQSI.
Secara hasil penelitian menujukan bahwa kurikulum integrasi ilmu al-Qur’an dan Sains memiliki relevansi yang cukup dengan tuntutan dunia kerja modern. Kurikulum tersebut tidak hanya melahirkan tenaga ahli di bidang keagamaan, tetapi juga individu yang memiliki etos kerja Islami, kemampuan berpikir kritis, serta beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Meskipun kurikulum harus disesuaikan dengan keputuhan pasar dengan terus mengurangi skill gap, meningkatkan daya saing lulusan, serta mendorong inovasi, namun kurikulum Pendidikan tidak cukup dengan hanya relevan dengan dunia kerja, tetapi harus berpegang teguh pada tujuan utama Pendidikan, yaitu mengembangkan potensi manusia secara holistik dengan mengembangkan intelektual, membentuk karakter dan moral, menyiapkan individu dengan bekal hidup bermasyarakat, serta mampu beradaptasi dengan perubahan sosial.
Reporter : Lutfiya Nurmayanti




