
Lamongan-Pasca libur Hari Raya Idul Fitri, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIQSI Kembali menggelar agenda bulanan Research Day episode ke-21 (31/3/2026). Agenda ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan STIQSI dalam menghidupkan Kembali tradisi akademik sekaligus memperkuat budaya riset di lingkungan kampus. Meskipun tidak lama diselenggarakan setelah masa libur, pelaksanaan agenda ini tetap berlangsung dengan penuh antusias dan dukungan dari berbagai pihak.
Kesiapan para pemateri yang telah terjadwal juga terlihat optimal, dengan hasil riset yang matang dan siap untuk dipresentasikan.Hal ini menunjukan komitmen yang kuat dari para dosen STIQSI dalam menjaga budaya riset walaupun terpotong masa libur panjang perkuliahan. Dalam edisi kali ini, kedua pemateri al-Ustadz Luqman Hakim, S.H.I., M.H dan al-Ustadzah Fuji Lestari, S.Th.I., M.Ag mengangkat tema-tema menarik yang relevan dengan perkembangan kajian dalam tradisi tafsir al-Qur’an dan isu sosial saat ini banyak menuai sorotan.
Manifestasi Living Qur’an dan Tantangan Epistemologis dalam Kajian Al-Qur’an Kontemporer
Al-Ustadzah Fuji Lestari, S.Th.I., M.Ag selaku pemateri pertama berupaya menyajikan dalam penelitiannya seberapa jauh kajian living qur’an sebagai pendekatan yang menempatkan Al-Qur’an tidak hanya sebagai teks normatif, tetapi juga sebagai realitas yang hidup dalam praktik sosial masyarakat Muslim. Tidak hanya itu, penelitian ini juga mengungkap bagaimana tantangan epistimologis dalam memahami fenomena tersebut, terkhusus ketegangan antara ajaran normatif Al-Qur’an dan realitas praktik sosial.
Kaprodi IAT STIQSI mengungkap bahwa Manivestasi Living Qur’an merujuk pada bentuk-bentuk nyata bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai teks suci yang dibaca dan ditafsirkan, tetapi juga dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim. Manifestasi tersebut terjadi dalam bentuk praktik ritual keagamaan seperti pembacaan ayat al-Qur’an dalam tahlilan, tradisi sosial keagamaan seperti sedekah, gotong royong berbasis Qur’ani, maupun simbol dan ekspresi keagamaan seperti penggunaan ayat al-Qur’an dalam hiasan rumah, kaligrafi.
Disamping itu, kajian living Qur’an juga mengalami tantangan epistimologis yang berkaitan dengan bagaimana cara memahami, menilai, dan memvalidasi praktik keagamaan masyarakat yang mengatasnamakan nilai-nilai Al-Qur’an. Salah satu tantangan utamanya adalah adanya ketegangan antara teks normatif dan praktik empiris. Disamping itu, tantangan validitas pengetahuan, subjektivitas peneliti, relativitas makna, juga perlu pendekatan integratif yang mampu menggabungkan kajian teks (normatif) dengan kajian konteks (empiris), sehingga Living Qur’an dapat dipahami secara lebih komprehensif dan proporsional dalam kerangka studi Al-Qur’an kontemporer.
Patologi Birokrasi Lembaga Publik dan Upaya Pencegahannya
Tidak kalah menarik, al-Ustadz Luqman Hakim, S.H.I., M.H selaku pemateri kedua berupaya menyajikan dalam penelitiannya bagaimana akar masalah patologi birokrasi dalam lembaga publik serta merumuskan berbagai pendekatan preventif yang dapat diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan. WAKA II STIQSI tersebut menjelaskan bahwa patologi birokrasi kondisi “sakit” dalam organisasi publik yang muncul karena interaksi antara struktur, proses, perilaku, dan lingkungan politik-administratif. Kondisi ini mencakup berbagai bentuk perilaku aparat yang menyimpang dari nilai etika, aturan, ketentuan hukum, maupun norma yang seharusnya ditaati.
Lebih jauh lagi, pemateri juga merumuskan upaya pendekatan preventif untuk mengatasi berbagai patologi birokrasi perlu dilakukan secara berlapis, berjenjang, dan berkelanjutan, mencakup transformasi struktural, peningkatan kapasitas SDM, penguatan kepemimpinan, pembenahan budaya organisasi, etika publik, , serta penyempurnaan mekanisme akuntabilitas publik dan Political–Legal Prevention, bertumpu pada penguatan sistem hukum, pengawasan eksternal.
Akhirnya, dari kedua penelitian ini diharapkan semangat penelitian yang dihadirkan oleh kedua pemateri dapat menjadi isnpirasi dosen dan mahasiswa untuk terus melahirkan riset-riset yang inovatif, integrative dan relevan dengan kebutuhan zaman yang melandaskan kuat pada nilai-nilai al-Qur’an dan tradisi keilmuan Islam.
Reporter: Lutfiya Nurmayanti




