Meneguhkan Al-Qur’an Sebagai Inti Besar Kesastraan dan Inspirasi Peradaban

Lamongan – Materi pembuka yang disampaikan oleh Keynote Speakers pertama, Dr. Azhar Ibrahim dari NUS Singapura pada Pergelaran Puncak QURANICONS 2025 (25/09/2025) semakin meneguhkan bahwa al-Qur’an memiliki keunggulan dalam berbagai aspek, terkhusus pada keindahan sastra. Satu permasalahan yang sempat terlupakan pada pendalaman kajian sastra bahwa dibalik karya-karya sastra besar terdahulu yang telah ditulis oleh para penulis hebat, semuanya terinspirasi dari pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’an.

Sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh guru besar ini dalam kajian sastranya, bahwa sepanjang penelusuran terhadap berbagai karya sastra klasik, memiliki pola yang sebagian besar menceritakan hikayat, kisah ataupun pelajaran yang terinspirasi dari keterangan-keterangan al-Qur’an. Ismail Raji Al Faruq meyakinkan dalam pendapatnya bahwa apabila terdapat sesuatu yang benar-benar layak disebut seni, maka itulah al-Qur’an. Lebih dari itu, jika terdapat sesuatu yang benar-benar mempengaruhi pikiran seorang muslim, maka sudah pasti itu adalah al-Qur’an.

Keagungan Al-Qur’an dalam Menginspirasi Kehidupan
Satu hal yang menjadi catatan penting dari apa yang telah disampaikan Dr. Azhar bahwa keagungan al-Qur’an terletak pada kemampuannya yang menyentuh dalam berbagai dimensi kehidupan, mulai dari spiritual, intelektual, social sampai budaya. Melalui ajaran iman dan ihsan, Al-Qur’an menuntun manusia menuju jalan kebaikan dan kesempurnaan amal. Adapun dalam aspek intelektual, Al-Qur’an membuka cakrawala pengetahuan sekaligus menumbuhkan kesadaran nurani (insaf) yang menyeimbangkan antara akal dan hati.

Kisah-kisahnya yang penuh hikmah menghadirkan motivasi untuk bertahan dalam ujian, menguatkan harapan, serta mendorong lahirnya kreativitas dalam peradaban. Tidak hanya itu, keindahan bahasa dan retorika Al-Qur’an telah menginspirasi tradisi sastra, seni, dan budaya Islam yang terus hidup hingga kini. Dengan demikian, Al-Qur’an adalah sumber pencerahan dan inspirasi agung yang senantiasa relevan dalam membentuk kehidupan yang lebih bermakna.

Insight Para Penkaji Al-Qur’an
Dengan keagungan yang terkandung dalam al-Qur’an, para penkaji al-Qur’an telah melakukan kajian yang mendalam mulai dari zaman klasik sampai modern. Terlebih setelah terjadinya perang dunia kedua, kondisi para orientalis yang sebelum terjadinya peperangan melakukan pendalaman al-Qur’an dengan tujuan hanya untuk memanfaatkan orang islam, menjadi sedikit berubah pasca peperangan yang menyadari bahwa al-Qur’an adalah sumber ilmu.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa karya, baik dari para orientalis maupun sarjana muslim mulai zaman klasik sampai kontemporer, diantaranya para sarjana klasik: Thomas Jefferson’s yang menulis buku yang berjudul ” Qur’an: Islam and the Founders”, Kenneth Cragg dengan bukunya “The Qur’an and The West”, juga Maurice Bucaille yang menulis buku “The Bible, The Qur’an and Science”, dll. Sedangkan karya dari sarjana kontemporer, seperti buku yang berjudul “The Qur’an ini Context” yang ditulis oleh Angelika Neurith, Nicolas Sinai, selain itu terdapat buku yang berjudul “The Qur’an and Adab” yang ditulis oleh Nuha Alshaar, dsb.

Dengan beragam kajian tersebut, semakin tampak jelas bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi sumber spiritual dan pedoman hidup umat Islam, tetapi juga poros utama bagi lahirnya wacana intelektual, sastra, seni, hingga ilmu pengetahuan lintas zaman.

Reporter: Lutfiya Nurmayanti

Share

KABAR TERKAIT

Research Day Eps-21 Awali Program STIQSI Pasca Lebaran

Lamongan-Pasca libur Hari Raya Idul Fitri, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIQSI Kembali menggelar agenda bulanan Research Day episode ke-21 (31/3/2026). Agenda ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan

Scroll to Top