Rekonstruksi Jagad Raya: Membedah Tujuh Lapisan Langit Perspektif Al-Qur’an dan Kosmologi

Lamongan – Berlanjut pada hari ke-dua pada pergelaran acara puncak QURANICONS STIQSI (26/09/2025), kajian integrasi al-Qur’an dan Sains semakin menguat dengan hadirnya keynote speaker Prof. Agus Purwanto, D.Sc yang tidak kalah menarik dengan kajian pada hari sebelumnya. Sebagaimana tema pada konferensi, guru besar fisika teori di ITS Surabaya ini mencoba mengajak para peserta untuk merekonstruksi atau pembacaan ulang kajian jagad raya yang fokus pada tujuh lapisan langit dalam perspektif al-Qur’an dan Sains.

Sebagai penjelasan awal dari materi, telah dipaparkan data statistik penyebutan kata langit dalam al-Qur’an, yang ditemukan sebanyak 310 kata yang terdapat pada 297 ayat dengan bentuk lafadh samā’, samāwāt, al-samā’, dan al-samāwāt. secara hitungan kata dan ayat, terdapat selisih 13 kata, hal ini dikarenakan dalam beberapa ayat terdapat lebih dari satu penyebutan kata langit sekaligus, bahkan ada ayat yang mengulang hingga dua sampai tiga kali. Untuk memperdalam analisanya, penulis buku ayat-ayat semesta ini tidak hanya berhenti pada perhitungan statistik semata, tetapi juga merujuk pada kitab-kitab tafsir klasik sampai modern, seperti halnya tafsir al-Thabari sampai tafsir al-Munir.

Menyingkap Gambaran Struktur Langit dalam al-Qur’an
Berangkat dari Ayat al-Qur’an, Prof Agus menjelaskan bahwa gambaran umum jagad raya sendiri telah dijelaskan pada QS. 21: 16 yang menunjukan bahwa jagad raya ini tersusun dari Langit dan Bumi yang keduanya terpisah. Tidak hanya ayat tersebut, ayat lain yang serupa QS. 44:38 juga menyebutkan kata langit dengan bentuk jama’ yakni al-samāwāt. Berdasarkan dua ayat ini, dapat dipahami bahwa penyebutan al-samā’ (langit) identik dengan al-samāwāt (banyak langit).

Dari pengertian tersebut, dipertanyakan berapa banyak langit yang ada. Jawabannya pun diberikan pada QS. 67:3 yang menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan tujuh langit yang berlapis. Dengan ini dimaknai bahwa langit merupakan ruang yang membentuk lapisan seperti halnya kulit bola sebanyak tujuh lapis. Dari ayat itu pula, pemateri menyimpulkan bahwa tujuh lapis tersebut merupakan tujuh langit bumi, dengan alasan manusia dapat mengetahuinya. Meski tidak dapat dijangkau dengan mata telanjang, tapi dapat diketahui dengan bantuan kemajuan tekonologi teleskop yang mampu menjangkau sampai di luar ujung alam semesta.

Integrasi Penafsiran Qurani dan Ilmu Kosmologi terhadap Tujuh Lapisan Langit
Berangkat dari penyebutan al-Qur’an dengan adanya tujuh lapis langit, Prof Agus Purwanto menjelaskan secara bertahap mulai dari langit pertama sampai langit ke-tujuh. Dalam paparannya, Langit Pertama, berupa ruang tempat awan itu berada, dengan mengacu pada QS. 11:44 yang menceritakan akhir perjalanan Nabi Nuh pada peristiwa banjir, dimana langit diperintahkan untuk menghentikan hujan. kemudian Langit Kedua, berupa tempat lalu lalang pesawat terbang, dengan mengacu pada QS. 6:125 yang menceritakan bahwa orang yang disesatkan oleh Allah, dadanya terasa sesak atau sempit yang diibaratkan ketika seseorang itu sedang mendaki langit. Satu-satunya piranti yang dapat membawa ke posisi tersebut adalah dengan pesawat terbang, dan apabila seseorang mulai menaiki maka akan ada pengaruh terhadap tubuh kita terkhusus pendengaran kita. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tekanan, Jadi semakin keatas lapisan Udara akan semakin tipis.

Berlanjut pada Langit Ketiga, berupa tempat planet berada, dengan merujuk pada QS. 37:6 yang menyebutkan bahwa langit dunia dihiasi dengan kawākib (planet). kemudian Langit Keempat, berupa tempat bintang terang,dengan merujuk pada QS. 41:12 yang menyebutkan bahwa langit juga dihiasi dengan maṣābīḥ (bintang terang). Adapun bintang yang paling terang dengan kita adalah “Alfa Centaury” dengan jarak terdekat 4,35 tahun cahaya (setara dengan 4 tahun 4 bulan 8 hari). Lebih atas lagi, Langit kelima, berupa tempat gugus bintang berada, dengan merujuk pada QS. 25:61. Adapun gugus bintang yang paling dekat adalah “Hyades” dengan jarak 156 tahun cahaya.

Sedangkan pada Langit Keenam, berupa tempat nebula Supernova, dengan mengacu pada QS. 55:37 yang menyebutkan bahwa langit itu terbelah seperti mawar yang terpenggal. Penjelasan ini banyak belum diketahui oleh para mufasir klasik, yang kemudian pada zaman modern, baru terpecahkan dengan penjelasan bahwa terpecahnya langit diartikan dengan ledakan bintang yang dikenal dengan Supernova. salah satunya yang terkenal yakni “Large Magellanic Cloud”. Terakhir Langit Ketujuh, berupa tempat black hole. Albert Einsten menyebutkan bahwa jagad raya itu seperti lengkungan dimana apabila terdapat sesuatu yang jatuh maka tidak dapat kembali. Hal ini merujuk pada QS. 51:7.

Berdasarkan uraian diatas, menunjukan bahwa kajian tujuh lapisan langit dalam al-Qur’an bukanlah sekedar wacana teologis, melainkan memiliki relevansi langsung dengan penemuan-penemuan kosmologi modern. Integrasi antara al-Qur’an dan sains membuktikan betapa kitab suci ini senantiasa membuka ruang eksplorasi bagi manusia untuk menyingkap rahasia jagad raya.

Reporter: Lutfiya Nurmayanti

Share

KABAR TERKAIT

Research Day Eps-21 Awali Program STIQSI Pasca Lebaran

Lamongan-Pasca libur Hari Raya Idul Fitri, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIQSI Kembali menggelar agenda bulanan Research Day episode ke-21 (31/3/2026). Agenda ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan

Scroll to Top