
Agenda Bulanan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), yakni Research Day Episode ke-5 (15/08/2023) membahas draft penelitian tentang implikasi penasaran terhadap kesadaran berdoa para santri Pondok Pesantren Al-Ishlah. Arromu Harmuzi, M.Pd.I, narasumber dan peneliti tentang topik tersebut menguraikan secara jelas penelitian yang telah dilakukan beberapa hari lalu dengan mengambil sampel seluruh santriwan Ponpes al-Ishlah Kelas IX SMPM12 Sendangagung Paciran Lamongan.
Menurutnya, angle penelitian ini bermula dari keluhan salah seorang asatidz penguji ujian lisan yang mendapati banyak santriwan yang belum memahami dengan baik makna doa yang mereka baca dan bahkan hafalkan, baik berupa do’a harian atau doa setelah shalat dan bacaan dalam sholat. Fakta tersebut menjadikan dosen STIQSI Lamongan pengampu Ilmu Tasawuf ini merasa prihatin. Sebab, apabila dikaitkan dengan kesepakatan umum yang diyakini bahwa apabila seseorang tidak memahami dengan baik makna serta maksud doa yang dilafalkan, maka kemungkinan besar akan menjadikan orang itu susah menghayati doanya.
Dengan latar belakang tersebut, narasumber mencoba meneliti fenomena kecil, yaitu pilihan objek penelitian do’a belajar yang dipanjatkan oleh para santriwan. “Contoh sederhana seperti ini saja banyak yang belum memahami. Bisa dikatakan bahwa mereka hanya melafalkan saja tanpa memahami maksudnya. Maka, dapat jadi, dengan situasi ini, telah menjadikan anak-anak kurang semangat dalam belajar,,” ujar ustadz yang akrab dengan sapaan Ustadz Harmuzi atau Kak Zi ini.
Untuk mensolidkan langkah penelitiannya, Waka I STIQSI Lamongan ini menyusun lima belas pertanyaan. Lima belas pertanyaan itu selanjutnya dipilah-pilah lagi menjadi lima pertanyaan besar, di antaranya: (i) Apakah Anda terbiasa memulai belajar dengan do’a sebelum belajar?; (ii) Apakah Anda ketika berdoa itu sadar serta menghayati makna doa yang Anda lafalkan?; (iii) Apakah pengaruh berdoa dapat menimbulkan lebih semangat lagi atau yakin tidaknya dikabulkannya doa?.
Dengan suasana yang sedikit santai, secara terus terang dipaparkan hasil dari penelitiannya tersebut, yang menunjukkan bahwa hanya ada beberapa persen dari santriwan saja yang memiliki pemahaman mendalam terkait dengan doa yang dipanjatkan dalam kesehariannya.

Dalam sesi tanya jawab, penelitian ini banyak mendapatkan pertanyaan, masukan dan saran. Misalnya, dari Ketua STIQSI Lamongan, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, MA.; Sekretaris STIQSI Lamongan, Azzam Musoffa, Lc., MIRKH.; Ketua dan Wakil Ketua LPPM STIQSI Lamongan, Anis Ulfiyatin, S.Sosio., M.Sosio., dan Fendy, M.Pd., seputar metode penelitian, objek penelitian, responden penelitian, dan lain semacamnya.
“Saya sangat bersyukur, walaupun sedikit tertuntut dengan jadwal, saya telah dapat menyajikan dengan sederhana rasa penasaran saya tentang perbedaan berdoa yang dipanjatkan oleh yang paham dan tidak paham dengan maksud doanya. Penasaran ini sudah muncul sejak kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa/wi STIQSI Angkatan III di Kalitengah setahun lalu. Saya berharap, penelitian ini mampu memberikan masukan kepada seluruh ustadz/ah dalam proses belajar-mengajar materi berdoa kepada para santri,” pungkasnya.
Reporter : Lutfiya Nurmayanti
Editor: Lutfiya Nurmayanti
proofreader : phdzr




